Perang Ego dan Kepentingan pada Isapan Rokok

Setelah nonton video di postingan sebelumnya, saya menciut sekaligus mengembang. Fluktuasi emosi bergejolak. Bukan masalah nasionalisme—yang bukan warga negara saya jadi musuh. Lebih dari itu, ini adalah ajang kepentingan-kepentingan berbentrokan. Maaf sebelumnya jika tulisan ini hanya kritikan dan minim solusi. Jika keberatan, tinggalkan saja tulisan ini.

Dari munculnya perusahaan rokok besar di Indonesia, berkaitan dengan iklannya yang sangat provokatif dan menjunjung tinggi pencitraan, kemudian menjalar kepada lahan pekerjaan pekerja produksi rokok, hingga konsumsi rokok yang meningkat di negara berkembang.

Entah apa yang dilakukan orang-orang saat ini. Saya juga masih tak mengerti yang namanya rokok itu yang membakar uang. Ya, mungkin sekalian bakar sel-sel sehat di tubuh. Kayanya semua orang sudah tahu: rokok itu berbahaya. Tetap saya belum mengerti mengapa rokok itu ada.

Ya, mungkin banyak alasan muncul di benak teman-teman yang menyebabkan hal ini. Lihat saja berapa ratus ribu orang yang hidup rokok. Mulai dari petani tembakau, buruh pabrik, hingga pedagang eceran. Ini biasanya jadi senjata utama produsen rokok di Indonesia agar undang-undang tak terlalu ketat dengan perdagangan rokok.

Dari video sebelumnya juga saya baru tahu bahwa di Indonesia, nikotin belum (atau mungkin tidak) dianggap sebagai zat adiktif. Pemerintah Indonesia belum menandatangani kesepakatan nikotin sebagai zat adiktif.

Indonesia rasanya seperti keju yang sedang digerogoti oleh tikus-tikus pembesar rokok. Iklan rokok yang SANGAT BANYAK, INTENS, DAN MENYELURUH tak luput jadi sorotan. Kebanyakan iklan rokok menjual pencitraan. Ya, apalagi? Toh barangnya merusak tubuh. Tapi kok ya masih aja ada yang hisap. Saya tak pernah benci kepada perokok (ya iyalah ngapain juga). Saya hanya menyesalkan sikapnya. Apalagi yang menimpa usia 18 tahun ke bawah (bukan berarti di atas itu bebas sebanyak-banyaknya).

Saya tidak mau banyak-banyak. Kita hidup tak sendiri. Asap rokok yang dihasilkan tentu akan terhirup oleh orang-orang sekitar. Sudah sifatnya zat gas seperti itu kan? Difusu dan osmosis? (CMIIW).

Semakin banyak rokok yang dihisap, pembesar rokok akan betah investasi di Indonesia, juga pemerintah semakin tumpul karena tak bisa mengalihkan lapangan pekerjaan bagi buruh rokok. Ya, kita juga mungkin akan semakin bergejolak dan bersalah dengan membiarkannya.

Di dunia ini masih ada kasih sayang, karena hidup tak hanya di dunia. Pikirkan setelahnya akan lebih baik, mudah-mudahan.

Cerita Fana, powered by Tumblr, Beckett theme by Jonathan Beckett