Surat untuk Dewi ‘Dee’ Lestari

Untuk Blog Contest Mizan.com

Selamat (silakan lihat awan, sudah masuk waktu apa), Mbak Dee. Akhirnya saya punya kesempatan untuk mendapatkan buku-buku Mbak yang kata orang sangat bagus dan menarik. Salam kenal, saya Adri. Sejujurnya saya belum pernah membaca buku Mbak satu pun. Saya sangat kurang membaca buku dari penulis Indonesia. Entah kenapa saya juga heran. Mungkin saya yang terlalu sombong meng-underestimate penulis Indonesia. Bodoh memang.

Saya ingat dulu ketika buku “Supernova” karya Mbak terpampang di sebuah toko buku terkenal di kota saya, Bandung. Ketika itu, saya hanya menyentuh sembari membolak-balikan cover depan dan belakang. Dari luar saya mengira ini ilmiah sekali. Ya, di benak saya, Supernova artinya ledakan nebula awal bumi dan bla bla bla lainnya yang saya tidak mengerti.

Sejak beberapa tahun lalu, saya memang berteman dengan banyak kawan yang sering melahap buku terutama novel fiksi. Dari mereka pula lah saya tahu buku-buku Mbak seperti “Perahu Kertas”, “Recto Verso”, dan “Madre”. Mendengar cerita-cerita mereka tentang buku Mbak, saya mulai tertarik membaca buku-buku Mbak. Tapi, lagi-lagi uang saya terpakai untuk membeli novel-novel yang (lagi-lagi) saya anggap lebih bagus dari novel penulis Indonesia.

Akan tetapi, hasrat saya untuk membaca novel-novel dari penulis Indonesia termasuk Mbak, mulai tak terbendung sejak akhir 2011. Saat itu, saya tak punya rencana liburan. Saya pikir, pasti akan membosankan tak ke mana-mana. Ya, cuma buku yang bisa menemani saya keluar dari rumah tanpa melangkahkan kaki di luar rumah.

Tapi, buku apa?

Teman-teman kuliah saya yang juga penggemar novel fiksi penulis Indonesia mulai menghipnotis saya dengan novel-novel Mbak. Apalagi, ada satu teman saya yang menggilirkan novel “Madre”-nya untuk dipinjamkan ke teman-teman yang lain. Karena belum UAS, saya menunda keinginan membaca novel-novel agar konsentrasi UAS tak terpecah.

Dan sekarang saya baru menyelesaikan UAS. Menyenangkan. Lebih menyenangkan apabila ditemani buku-buku novel fiksi! Yeah! Maklum, kuliah di jurusan jurnalistik menuntut penguraian dan sintesis fakta, bukan imajinasi yang terkenal sangat menyenangkan! Nah, saya mulai teringat dengan keinginan saya untuk membaca buku-buku novel fiksi penulis Indonesia, termasuk novel-novel Mbak.

Tapi, satu lagi masalah muncul. Selama liburan, uang saku saya dibatasi. Mengesalkan. Tabungan saya di bank juga saya rencanakan untuk dipakai nanti saja apabila ada keperluan sangat mendesak. Dilema datang.

Nah, pekan kemarin saya melihat linimasa twitter saya memunculkan akun @mizandotcom yang menawari satu seyambara untuk mendapatkan paket buku novel Mbak Dee. Ya, bagaimana saya tidak merasa tertantang. Ketika ada kemauan, lalu ada kesempatan, mengapa tidak?

Saya berharap saya bisa memiliki, membaca, dan menghayati buku-buku novel Mbak Dee dari surat ini. Tentu saya akan sangat berterima kasih kepada Mbak dan Mizan bila “menjerumuskan” saya ke labirin imajinasi Mbak dalam novel-novel Mbak. Sungguh, sekarang saya sedang membayangkan pikiran saya masuk dalam alur cerita-cerita di novel Mbak!

Cerita Fana, powered by Tumblr, Beckett theme by Jonathan Beckett