
(photo credit)
Ketika rekaman perang sangat diincar oleh semua pihak tapi tak ada stasiun TV yang mau menayangkannya, akankah seorang jurnalis menyerah pada keadaan? Film “5 Days Of War” menyajikan isu-isu jurnalisme perdamaian dalam perang yang belum lama terjadi.
Wartawan Amerika Serikat, Thomas Anders (Rupert Friend), berencana akan meliput serangan invasi Rusia di Georgia bersama kampers (camera person)-nya, Sebastian Ganz (Richard Coyle). Awalnya, mereka diundang oleh temannya sesama jurnalis bernama Dutchman (Van Kilmer) yang telah berada di Georgia sebelumnya.

(photo credit)
Saat itu, Georgia dirundung ketakutan akan invasi Rusia ke wilayah Ossetia Selatan. Area tersebut diperebutkan oleh Georgia, Rusia, dan gerakan separatis. Gagasan dan tuduhan terjadinya perang ini pun berseliweran. Salah satunya adalah adanya pipa minyak yang menuju Eropa. Dengan begitu, Eropa akan semakin kaya dan pipa Rusia tak akan laku lagi.
Sesampainya di Georgia, Anders dan Sebastian disambut tiga orang teman jurnalisnya dari AS. Kekacauan dimulai ketika invasi Sukhoi yang menjatuhkan bom ke sebuah pernikahan di area perbatasan. Di sana, Anders menyelamatkan seorang perempuan bernama Tatia (Emmanuelle Chriqui). Tatia adalah adik dari pengantin yang sedang merayakan pernikahan.

(photo credit)
Untuk meraih rumah sakit dan menghindari serangan, mereka pergi ke Gori. Ayah dan kakaknya telah pergi ke utara untuk berlindung. Tatia mengeluh kepada Anders mengapa Barat tak membantu Georgia. Padahal Georgia telah mengirimkan pasukan untuk membantu AS di Irak.

(photo credit)
Mereka pergi ke utara untuk menemui Ayah dan Kakaknya. Di sana pula lah mereka tertangkap oleh pasukan bersenjata yang disewa oleh Rusia dengan bayaran tinggi. Kamera Sebastian diperiksa oleh pasukan tersebut. Akan tetapi, hanya rekaman pernikahan yang muncul. Kartu memori yang sebenarnya dikubur di tempat persembunyian mereka sebelum tertangkap.
Sebastian disekap dalam sebuah ruangan dan akan dibunuh oleh “tukang jagal” pasukan tersebut. Seketika, tentara Georgia yang dipimpin oleh Kapten Rezo Avaliani (Johnathon Scaech) mendobrak markas pasukan bayaran tersebut dan membebaskan Anders dan kawan-kawan.

(photo credit)
Masalah utama ada pada kartu memori. Kartu memori berisi rekaman pembunuhan warga-warga sipil yang direkam Sebastian menjadi incaran pasukan bayaran yang dipimpin oleh Kapten Alexander Demidov (Rade Serbedjiza).

(photo credit)
Yang lebih parahnya lagi, tak ada produser stasiun TV mana pun di AS yang mau menayangkan berita pembunuhan warga sipil ini. Tak heran karena seluruh stasiun TV sedang menayangkan upacara pembukaan Olimpiade di Beijing. Apabila tak ada pemberitaan ini, takkan ada orang yang tahu perang telah terjadi. Hal ini dipicu pula oleh klaim Vladimir Putin yang menyatakan serangan dimulai oleh Georgia.

(photo credit)
Film ini sukses menggiring penonton pada kekejaman dalam kejahatan perang. Rasa miris dan sedih yang ditimbulkan perang memang tidak akan enak. Rasa kemanusiaan yang beradu dengan kepentingan sekular menjadi dilema sendiri bagi media-media.
Begitu pentingnya bukti kejahatan perang menjadi bukti bahwa dunia membutuhkan media di luar bias yang dihasilkan. Loyalitas utama jurnalis pada warga diuji dalam perang 5 hari ini. Bagaimana kemampuan seorang jurnalis memberitakan peristiwa dalam keadaan genting, berita harus tetap tersiar secara independen agar dunia menyadari masih ada kegelapan yang tersembunyi di balik hingar-bingar sebuah pesta.
Pada akhirnya, akankah Georgia mendapat dukungan Barat dalam serangan Rusia ini? Apakah Anders berhasil menyiarkan berita ini kepada dunia? Kebenaran manakah yang harus dipercaya? Silakan menikmati film produksi 2010 ini.