annisaadejanira:

SENYUUUUUUUUUUUMMM :)

annisaadejanira:

SENYUUUUUUUUUUUMMM :)

(Source: )

(Source: greatwins)

livelifewithtruth:

The Rise of Islam in Japan.
I find this documentary absolutely fascinating and awe-inspiring! Islam is truly a religion of all people, and Muslim do truly come in the form of all racial and ethnic backgrounds. Islam is universal, and we should not forget this point. I pray I will be able to visit Japan in my lifetime! 

kuntawiaji:

Membela hak pejalan kaki. Penjelasan video: Pada sore hari sekitar pukul lima sore, perekam video ini sedang berhenti sejenak di bawah jembatan Semanggi karena macet yang luar biasa. Sembari menunggu lalu lintas berkurang, dia melihat-lihat keadaan. Jalanan yang padat membuat banyak pengendara motor yang mengambil jalan pintas, naik ke trotoar. Hal ini rupanya membuat berang seorang ibu muda yang dengan gagahnya melabrak para pengendara motor yang naik ke trotoar. Semuanya dipaksa turun olehnya.

Kenapa pejalan kaki perlu dibela? Karena di jalan, pejalan kaki telah lama menjadi musuh bersama. Karena selama ini, pejalan kaki telah dicederai hak-haknya.

brotherhoodarts:

025 : Ahmad says…### Share/Reblog/Retweet Discount Coupon Redeem ###This post sparks your mind? Share with your dear friends and REDEEM your 5% discount coupon to purchase any Brotherhood Arts products inhttp://deenify.com/Obtain your coupon by submitting your details here http://bit.ly/ coupon-redeem*For FB sharing, please make sure you share this post as ‘Public’TQ!

brotherhoodarts:

025 : Ahmad says…

### Share/Reblog/Retweet Discount Coupon Redeem ###

This post sparks your mind? Share with your dear friends and REDEEM your 5% discount coupon to purchase any Brotherhood Arts products inhttp://deenify.com/

Obtain your coupon by submitting your details here http://bit.ly/ coupon-redeem

*For FB sharing, please make sure you share this post as ‘Public’

TQ!

Epilog “Selidik Jurnalis” Mata Najwa

Ini adalah epilog Mata Najwa edisi 25 Januari yang saya dapat dari akun twitter resminya: @matanajwa. Episode ini mengangkat tema “Selidik Junalis”, lika-liku terbentuknya laporan jurnalisme investigasi. Sangat menarik dan tentu menegangkan.

Dalam jurnalisme investigasi, kesetiaan terletak pada disiplin verifikasi. Sikap skeptis terhadap sesuatu membongkar yang baku menjadi temuan baru. Memperlakukan cerita dan kepingan informasi layaknya permainan teka-teki. Investigasi membedakan klaim dari fakta dan menjadikan keterampilan bertanya sebagai senjat. Selalu ada dua sisi dari sebuah koin dan selalu ada cerita yang tak ingin diungkap. Investigasi tak harus berakhir dengan kejatuhan penguasa. Layaknya Presiden Nixon dalam watergate. Investigasi juga berlaku untuk korupsi pembangunan pasar dan robohnya jembatan. Jurnalisme selidik sepatutnya menjadikan hal-hal penting menjadi menari. Sebab, selain industri bisnis, media bertanggung jawab mengangkat kepentingan publik

Bukan Penelitian Resmi

Agaknya, jurnalis sering dianggap menerobos privasi seseorang atau sekelompok orang. Di sisi lain, jurnalis dituntut untuk mengungkap berbagai fakta yang terbalut kebohongan.

Sepertinya:

Orang mencerca jurnalis ketika ia diberitakan tidak baik walau benar adanya.

Orang memuji jurnalis ketika laporan jurnalistik menguntungkan dirinya. Dari aspek mana pun.

Namanya juga manusia. Jurnalis dan warga sama-sama manusia ‘kan.

Perang Ego dan Kepentingan pada Isapan Rokok

Setelah nonton video di postingan sebelumnya, saya menciut sekaligus mengembang. Fluktuasi emosi bergejolak. Bukan masalah nasionalisme—yang bukan warga negara saya jadi musuh. Lebih dari itu, ini adalah ajang kepentingan-kepentingan berbentrokan. Maaf sebelumnya jika tulisan ini hanya kritikan dan minim solusi. Jika keberatan, tinggalkan saja tulisan ini.

Dari munculnya perusahaan rokok besar di Indonesia, berkaitan dengan iklannya yang sangat provokatif dan menjunjung tinggi pencitraan, kemudian menjalar kepada lahan pekerjaan pekerja produksi rokok, hingga konsumsi rokok yang meningkat di negara berkembang.

Entah apa yang dilakukan orang-orang saat ini. Saya juga masih tak mengerti yang namanya rokok itu yang membakar uang. Ya, mungkin sekalian bakar sel-sel sehat di tubuh. Kayanya semua orang sudah tahu: rokok itu berbahaya. Tetap saya belum mengerti mengapa rokok itu ada.

Ya, mungkin banyak alasan muncul di benak teman-teman yang menyebabkan hal ini. Lihat saja berapa ratus ribu orang yang hidup rokok. Mulai dari petani tembakau, buruh pabrik, hingga pedagang eceran. Ini biasanya jadi senjata utama produsen rokok di Indonesia agar undang-undang tak terlalu ketat dengan perdagangan rokok.

Dari video sebelumnya juga saya baru tahu bahwa di Indonesia, nikotin belum (atau mungkin tidak) dianggap sebagai zat adiktif. Pemerintah Indonesia belum menandatangani kesepakatan nikotin sebagai zat adiktif.

Indonesia rasanya seperti keju yang sedang digerogoti oleh tikus-tikus pembesar rokok. Iklan rokok yang SANGAT BANYAK, INTENS, DAN MENYELURUH tak luput jadi sorotan. Kebanyakan iklan rokok menjual pencitraan. Ya, apalagi? Toh barangnya merusak tubuh. Tapi kok ya masih aja ada yang hisap. Saya tak pernah benci kepada perokok (ya iyalah ngapain juga). Saya hanya menyesalkan sikapnya. Apalagi yang menimpa usia 18 tahun ke bawah (bukan berarti di atas itu bebas sebanyak-banyaknya).

Saya tidak mau banyak-banyak. Kita hidup tak sendiri. Asap rokok yang dihasilkan tentu akan terhirup oleh orang-orang sekitar. Sudah sifatnya zat gas seperti itu kan? Difusu dan osmosis? (CMIIW).

Semakin banyak rokok yang dihisap, pembesar rokok akan betah investasi di Indonesia, juga pemerintah semakin tumpul karena tak bisa mengalihkan lapangan pekerjaan bagi buruh rokok. Ya, kita juga mungkin akan semakin bergejolak dan bersalah dengan membiarkannya.

Di dunia ini masih ada kasih sayang, karena hidup tak hanya di dunia. Pikirkan setelahnya akan lebih baik, mudah-mudahan.

It’s our responsibilities. Just so you know.. understand.. and act.

Senjata Mereka Adalah Kebenaran

(photo credit)

Ketika rekaman perang sangat diincar oleh semua pihak tapi tak ada stasiun TV yang mau menayangkannya, akankah seorang jurnalis menyerah pada keadaan? Film “5 Days Of War” menyajikan isu-isu jurnalisme perdamaian dalam perang yang belum lama terjadi.

Wartawan Amerika Serikat, Thomas Anders (Rupert Friend), berencana akan meliput serangan invasi Rusia di Georgia bersama kampers (camera person)-nya, Sebastian Ganz (Richard Coyle). Awalnya, mereka diundang oleh temannya sesama jurnalis bernama Dutchman (Van Kilmer) yang telah berada di Georgia sebelumnya.

(photo credit)

Saat itu, Georgia dirundung ketakutan akan invasi Rusia ke wilayah Ossetia Selatan. Area tersebut diperebutkan oleh Georgia, Rusia, dan gerakan separatis. Gagasan dan tuduhan terjadinya perang ini pun berseliweran. Salah satunya adalah adanya pipa minyak yang menuju Eropa. Dengan begitu, Eropa akan semakin kaya dan pipa Rusia tak akan laku lagi.

Sesampainya di Georgia, Anders dan Sebastian disambut tiga orang teman jurnalisnya dari AS. Kekacauan dimulai ketika invasi Sukhoi yang menjatuhkan bom ke sebuah pernikahan di area perbatasan. Di sana, Anders menyelamatkan seorang perempuan bernama Tatia (Emmanuelle Chriqui). Tatia adalah adik dari pengantin yang sedang merayakan pernikahan.

(photo credit)

Untuk meraih rumah sakit dan menghindari serangan, mereka pergi ke Gori. Ayah dan kakaknya telah pergi ke utara untuk berlindung. Tatia mengeluh kepada Anders mengapa Barat tak membantu Georgia. Padahal Georgia telah mengirimkan pasukan untuk membantu AS di Irak.

(photo credit)

Mereka pergi ke utara untuk menemui Ayah dan Kakaknya. Di sana pula lah mereka tertangkap oleh pasukan bersenjata yang disewa oleh Rusia dengan bayaran tinggi. Kamera Sebastian diperiksa oleh pasukan tersebut. Akan tetapi, hanya rekaman pernikahan yang muncul. Kartu memori yang sebenarnya dikubur di tempat persembunyian mereka sebelum tertangkap.

Sebastian disekap dalam sebuah ruangan dan akan dibunuh oleh “tukang jagal” pasukan tersebut. Seketika, tentara Georgia yang dipimpin oleh Kapten Rezo Avaliani (Johnathon Scaech) mendobrak markas pasukan bayaran tersebut dan membebaskan Anders dan kawan-kawan.

(photo credit)

Masalah utama ada pada kartu memori. Kartu memori berisi rekaman pembunuhan warga-warga sipil yang direkam Sebastian menjadi incaran pasukan bayaran yang dipimpin oleh Kapten Alexander Demidov (Rade Serbedjiza).

(photo credit)

Yang lebih parahnya lagi, tak ada produser stasiun TV mana pun di AS yang mau menayangkan berita pembunuhan warga sipil ini. Tak heran karena seluruh stasiun TV sedang menayangkan upacara pembukaan Olimpiade di Beijing. Apabila tak ada pemberitaan ini, takkan ada orang yang tahu perang telah terjadi. Hal ini dipicu pula oleh klaim Vladimir Putin yang menyatakan serangan dimulai oleh Georgia.

(photo credit)

Film ini sukses menggiring penonton pada kekejaman dalam kejahatan perang. Rasa miris dan sedih yang ditimbulkan perang memang tidak akan enak. Rasa kemanusiaan yang beradu dengan kepentingan sekular menjadi dilema sendiri bagi media-media.

Begitu pentingnya bukti kejahatan perang menjadi bukti bahwa dunia membutuhkan media di luar bias yang dihasilkan. Loyalitas utama jurnalis pada warga diuji dalam perang 5 hari ini. Bagaimana kemampuan seorang jurnalis memberitakan peristiwa dalam keadaan genting, berita harus tetap tersiar secara independen agar dunia menyadari masih ada kegelapan yang tersembunyi di balik hingar-bingar sebuah pesta.

Pada akhirnya, akankah Georgia mendapat dukungan Barat dalam serangan Rusia ini? Apakah Anders berhasil menyiarkan berita ini kepada dunia? Kebenaran manakah yang harus dipercaya? Silakan menikmati film produksi 2010 ini.

fuckyeahgiantpanda:

‘A child’s experience in Wolong’. -  Megan Owen.

aaaa he had so much fun!

fuckyeahgiantpanda:

‘A child’s experience in Wolong’. -  Megan Owen.

aaaa he had so much fun!

Sekadar Melepas Penat

Jarang-jarang jalan-jalan kalau sedang di Bandung. Mentok-mentok biasanya main bareng kawan SMA. Bukan apa-apa, kalau udah menyentuh Bandung, raga ini rasanya terpanggil hanya untuk berada di rumah orang tua tercinta. Ya, bagaimana tidak, cuacanya enak sekali untuk istirahat. Tapi, angin Bandung sekarang-sekarang sepertinya mengalami anomali. Entah mengapa sangat dingin, menusuk tulang. Intinya sih, takut masuk angin.

Hari ini libur. Kakakku (selanjutnya panggil saja teteh) juga berarti libur kerja. Sekalian mau cari kado buat teman, saya ikut aja jalan-jalan. Lumayan, kalau bareng teteh biasanya ditraktir (dan memang seperti itu adanya *yes!). Berangkat naik angkutan setia dari kecil (baca: angkot), masih bertanya-tanya akan kemana. Tujuan yang disebut Mal semua. Bingung abisnya. Setengah perjalanan, teteh bilang,” Ya udahlah, BIP aja.” Ya sudah. (Yang penting ditraktir).

Akhirnya mentok nonton di Empire. Dan film-nya banyak yang ingin ditonton. Antara “Don’t Be Afraid Of The Dark”, “5 Days of War”, sama “Hafalan Shalat Delisa”. Pilihan jatuh pada yang kedua. Padahal kayanya teteh pengen yang pertama. Cuma saya bilang, saya liat di linimasa twitter kemarin tentang review-nya yang gimanaaa gitu (emang gajelas). Daripada beli kucing dalam karung, akhirnya nonton film perang lebih seru. Tentu, ini juga berkat @aiskairun yang rekomendasi film jurnalisme perang ini. Ya, alhamdulillaah, kami tak kecewa.

Ga penting sih masukin gambar di atas. Gapapalah biar gaya. Kemudian, setelah okonomiyaki, ice chocolate blended, dan pop corn caramel ditampung di perut kami, sebuah kios baso dekat rumah jadi sasaran tempat makan selanjutnya. Bihun Baso Cincang + Baso Urat: Menggiurkan.

Bersyukur mengalami nikmat dunia. Melepas penat judulnya. Semoga semua bahagia :)

P.S: bertemu @basthun di BIP, sudah lama sekali.

Tugas Akhir Desain Grafis Periklanan

Ini adalah Tugas Akhir Ujian AKhir Semester (UAS) Desain Grafis Periklanan.

Lihat juga karya lainnya punya teman-teman saya:

  1. Gurit Aji Sukmo (ajprasetyo.tumblr.com)
  2. Johannes Natanael Sianturi (jojonael.tumblr.com)
  3. Shintya (shinteya.tumblr.com)

Ayo berkarya untuk Indonesia!

Yeuh aya kuliah basa sunda lah..biar ga sepi :D Terbukti bhs Sunda lebih praktis daripada bhs Inggris:

kudratadam:

• Spending a lot of time doing nothing = ngajedog.

• Got hit by a truck that is moving backward = katabrak treuk.

• Talk too much about unimportant things = ngacaprak.

• Fall backward and then hit own head = ngajengkang.

• Falling forward and may hit own face = tikusruk.

• A small sharp thing, embedded inside one’s skin = kasura.

• Smearing one’s body with hot ointment and then massaging it = borehan

• Complaining endlessly over unnecessary small matters = kukulutus

• Being completely ignored by other people, no matter how hard you are trying to get attention = teu diwaro

Cerita Fana, powered by Tumblr, Beckett theme by Jonathan Beckett